:strip_icc():format(jpeg)/liputan6-media-production/medias/1467495/original/002638300_1484043584-20160110-OK.jpg)
Dalam berkomunikasi sehari-hari, kalimat yang digunakan pastinya tak terbatas, apalagi terhitung. Namun umumnya orang tak mengetahui asal usul kata yang kerap diucapkan.
Hal ini tidak hanya terjadi di satu atau dua negara saja tapi juga di banyak tempat. Alasannya, karena proses penyerapan bahasa asing dari berbagai negara terjadi secara meluas.
Secara umum kata 'OK' diartikan oleh sebagian besar masyarakat sebagai kata yang mengungkapkan persetujuan, sama halnya dengan kata bahasa Inggris 'yes'. Namun, apakah ini berarti bahwa kata tersebut berasal dari negara yang memiliki bahasa ibu bahasa Inggris?
Berbagai persepsi terkait hal ini telah bermunculan, misalnya Allan Metcalf yang dalam bukunya tersebut telah menjabarkan bahwa kata 'OK' memang berasal dari Amerika yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibunya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa kata 'OK' merupakan kata berfaedah dan ringkas asli Amerika yang tidak ada kaitannya dengan bahasa Latin, Yunani, maupun bahasa lainnya.
Tidak hanya itu, ia juga menuturkan bahwa kata 'OK' tidak seharusnya dituliskan menjadi 'okay' karena merupakan sebuah akronim untuk 'oll korrect' yang mengacu pada pelafalan 'all correct' dengan cara pelafalan bahasa Inggris.
Selaras dengan pemaparan Allan Metcalf, video yang diunggah oleh Mental Floss di Facebook menunjukkan bahwa kata 'OK' merupakan sebuah akronim dan kata ini mulai populer menjadi tren sejak awal Abad ke-19 dan berasal dari Amerika.
Selain itu, dalam video tersebut ditampilkan pandangan Allen Walker Read, seorang ahli ilmu asal kata, yang meyakini bahwa kata 'OK' bermula dari tren para penulis di Boston newspaper (1839), yang dengan sengaja menyingkat pelafalan kata 'all correct' menjadi 'OK'.
Bahkan mereka juga mempopulerkan akronim lainnya yang berdasarkan pada bagaimana pelafalan kata-kata tersebut, seperti 'KG' dari pelafalan 'no go' yang berbunyi 'know go' dan 'AW' dari pelafalan 'all right' yang berbunyi 'all write', serta singkatan yang sama persis dengan penulisannya seperti 'ISBD' yang bermakna 'It shall be done'.
Nyatanya perilaku gemar membuat dan mempopulerkan singkatan seperti yang terjadi di Boston ini masih terus terjadi sampai ke generasi milenial pada masa kini. Selain itu, tidak semua tren mampu populer dalam waktu yang cukup lama seperti kata 'OK' yang masih digunakan dari dulu sampai saat ini.
No comments:
Post a Comment